Dulu Karyawan, Kini Juragan Bisnis Online

Dulu Karyawan, Kini Juragan Bisnis Online

LITLIFE.ID, - Tumpukan kardus hampir memenuhi halaman rumahnya. Gulungan plastik serta peralatan rumah tangga tertata rapi di sebuah rak. Sendok, botol minum, panci, hingga keset kaki siap dikirim ke seantero wilayah Indonesia.

Ferry Hardiansyah, sang pemilik rumah, adalah penjual online. Saat ditemui ia sedang duduk serius di depan laya  laptopnya, memeriksa akun-akun aplikasi jual beli di internet.

Ferry, demikian lelaki mantan karyawan perusahaan IT itu biasa dipanggil, memulai usaha dengan uang asuransi ketenagakerjaan sebesar Rp 2 juta.

Lelaki usia 25 tahun itu hanya satu dari belasan ribu generasi milenial yang melihat peluang usaha dari pertumbuhan industri e-commerce. Data Sensus Ekonomi 2016 dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan industri e-commerce Indonesia tumbuh 17 persen, dengan total jumlah usaha 26,2 juta.

Ferry melihat peluang usaha di industri e-commerce sejak lama, tapi lelaki yang bermukim di Bekasi itu baru memulainya dua tahun lalu, saat dia mulai lelah bekerja dan terikat dengan gaji bulanan. Ia mengawalinya dengan menjual barang kebutuhan rumah tangga berharga Rp 15 ribu sampai Rp 100 ribu melalui media social dan aplikasi chat.

“Saya selalu pantau akun saya di Tokopedia dan Shopee,” ujar pria yang hanya sempat meraih diploma III itu. “Tidak jarang saya berhubungan dengan calon pembeli lewat whatsapp.”

Ferry mengambil setiap jenis barang dari distributor/importir. Sebagai penjual pertama, Ferry menjual dengan harga murah di kios online bernama Jaguar Collection. Ia tidak perlu menimbun barang terlalu banyak, karena berjualan online hanya mengandalkan display foto.

Calon pembeli, menurut Ferry, hanya melihat foto dan membaca spesifikasi barang yang dijajakan. “Ada dua pilihan transaksi; cash on delivery (COD), atau mentransfer sejumlah uang dan ongkos kirim yang disepakati,” katanya.

Pembeli berasal dari sekujur Indonesia. Mulai seputar Jakarta sampai ke ujung barat dan timur Indonesia. Seiring waktu, barang yang dijual Ferry kian beragam. Ia tidak lagi sekadar menjual alat-alat rumah tangga, tapi mengikuti trend komoditas yang sedang disukai konsumen.

Setiap hari Ferry sibuk mengemas minimal 15 pesanan dan mengantarnya ke kantor penyedia jasa pengiriman barang. Di sela kesibukannya, ia kerap menyempatkan diri membaca kecenderungan pasar terhadap komoditas tertentu. Atau membuka sebanyak mungkin kios online untuk membandingkan harga barang yang dijajakannya.

“Omzet saya kini Rp 130 juta per bulan, dengan barang yang saya jajakan mencapai 30 jenis,” kata Ferry dengan nada bangga. “Saya hanya mengambil keuntungan 20 persen dari harga di tingkat distributor.”

Ferry, bersama ribuan pemilik kios online lainnya, dipastikan masih akan menikmati pertumbuhan usaha sampai tiga tahun ke depan. Riset Bloomberg menyebutkan pada 2020 lebih separuh penduduk Indonesia akan terlibat aktivitas e-commerce, dan peralihan dari belanja konvensional ke belanja online akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi sampai 150 milar dolar AS pada tahun 2025.

Bloomberg juga menyebutkan saat ini 73 persen pengguna internet di Indonesia mengakses informasi lewat perangkat seluler. Angka ini akan bertambah dalam lima tahun ke depan. Ferry merasakan semua itu. Saat ini ia tidak bisa lagi melayani pesanan sendirian, dan terpaksa melibatkan ayah, ibu, dan adiknya untuk pengepakan barang.

Ferry adalah bos di keluarga. Kelak, lelaki berambut gondrong itu akan membuka lapangan kerja baru, dan menjadi bos kios online sesungguhnya. Ferry adalah satu dari generasi milenial yang tahu memanfaatkan teknologi digital.

Share:

Artikel Terkait: