Menanti Air Minum Jakarta tak Lagi Berbau dan Lancar

Menanti Air Minum Jakarta tak Lagi Berbau dan Lancar

LITLIFE.ID, - Retno Wibawati, warga Jakarta Barat, kerap mengeluhkan mutu air Perusahaan Air Minum (PAM). Terkadang, terutama saat kemarau, air berhenti mengalir selama beberapa jam. “Atau, air hanya mengalir malam hari dan kecil sekali,” ujar wanita usia 55 tahun itu.

Beberapa tetangga sebelah rumahnya kerap bangun malam hari untuk menampung air dari kran. Jika tidak, mereka tidak akan mungkin mandi dan mencuci pada pagi hari. Mereka terpaksa membeli air dari pedagang air keliling, atau meminta air dari tetangga terdekat yang mengambil air tanah.

Selama bertahun-tahun, mungkin sejak zaman Belanda, kebutuhan air penduduk Jakarta berasal dari dua sungai; Ciliwung dan Cisadane. Penduduk di sepanjangan sungai menggali sumur untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Pemerintah Batavia membangun perusahaan air minum, dan mengalirkan air sungai yang telah dijernihkan ke rumah-rumah penduduk kelas atas.

Setelah 1945 dan Batavia menjadi Jakarta, penduduk ibu kota membengkak akibat arus urbanisasi. Industrialisasi di sekujur Jakarta membuat baku mutu air Sungai Cisadane dan Ciliwung semakin buruk. Akibatnya, proses penjernihan menjadi sesuatu yang mahal.

Tahun 1990-an muncul gagasan menghentikan ketergantungan terhadap Sungai Cisadane dan Ciliwung, dan mengalirkan air Waduk Jatiluhur ke Jakarta untuk diproses menjadi air bersih. Air Waduk Jatiluhur relatif belum tercemar kandungan kimia dan biokimia, serta mudah diproses.

Selama bertahun-tahun gagasan itu hanya menjadi wacana diskusi pemerintah pusat dan Pemprov DKI Jakarta. Kementerian Pekerjaan Umum secara bertahap mewujudkan gagasan ini lewat Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM).

SPAM membangun pipa transmisi sepanjang 68 kilometer untuk mengalirkan air dari Jatiluhur ke dua Instalasi Pengolahan Air (IPA) di Cibebet, Kabupaten Karawang dan Jatibening, Kabupaten Bekasi, serta ke Jakarta. Pembangunan tahap pertama tahun 2014, dan tahap II tahun 2017, dengan invesetasi Rp 1,67 triliun. Pengerjaan seluruh proyek dilakukan Perum Jasa Tirta II.

IPA di Jatibening menghasilkan 550 liter per detik, untuk memenuhi kebutuhan air bersih Kabupaten Bekasi, Kota Bekasi, dan Karawang. IPA di Cibeet menghasilkan 4.450 liter per detik dan akan disalurkan ke Jakarta.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimulyo mengatakan pemerintah akan bekerjasama dengan swasta untuk pembangunan tahap dua yang diharap selesai 2018. Ia juga mengatakan Waduk Jatiluhur akan menjadi satu-satunya sumber air minum bagi DKI Jakarta.

Direktur Utama Perum Jasa Tirta II Djoko Saputro mengatakan Waduk Jatiluhur mampu menampung tiga miliar meter kubik air. Waduk mengairi 240 ribu hektar sawah bagian utara Jawa Barat, dan mengendalikan banjir wilayah hilir seluas 20 ribu hektar.

“Waduk Jatiluhur mendukung produksi padi 3,3 juta ton, dan berfungsi sebagai pembangkit tenaga listrik berkapasitas 187,5 MW,” kata Saputro.

Retno Wibawati mungkin tidak tahu proyek ini. Harti, warga Kalideres, pernah mendengar proyek tapi tak rinci. Yang pasti pemerintahan Presiden Joko Widodo berupaya keras merampungkan proyek ini, agar jutaan warga Jakarta tidak mengeluh berkepanjangan.

Share:

Artikel Terkait: